Gili Iyang, Surga dengan Oksigen Tertinggi di Dunia?

Gonjreng.com – Tahukah Anda jika Pulau Madura menyimpan permata-permata kecil di sekitarnya? Salah satu yang sedang naik daun adalah Gili Iyang. Pulau kecil yang terletak di Desa Dungkek, Kecamatan Dungkek, yang berjarak sekitar 28 kilometer dari pusat Kabupaten Sumenep ini, konon memiliki kadar oksigen tertinggi di dunia, setelah Laut Mati!

Benarkah? Berdasarkan penelitian Balai Besar Teknis Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Jawa Timur, kandungan oksigen di pulau seluas 9 kilometer persegi ini mencapai 21,5%, bahkan di beberapa spot ada yang di atas 22%. Ini lebih tinggi dari kadar oksigen rata-rata di dunia yang 20,9%. Keyakinan bahwa kadar oksigen di Gili Iyang tertinggi di dunia, bertambah kuat dengan fakta penduduknya rata-rata berumur panjang. Pada tahun 2016 Gili Iyang memiliki lebih dari 100 penduduk lanjut usia, dan lebih dari 50 berusia di atas 100 tahun. Luar biasa, bukan?

Gili Iyang
Gili Iyang

Namun penelitian yang dilakukan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Indonesia, ternyata berlainan. Menurut LAPAN, kadar oksigen Gili Iyang sesungguhnya normal, yakni 20.9%, sama saja dengan kadar oksigen di Pantai Ancol, Jakarta. Yang membuat atmosfer begitu sehat bagi penduduknya, sebenarnya bukan kadar oksigen lebih tinggi, namun minimnya pencemaran dari gas-gas polutan seperti hidrokrabon, CO, CO2, dan CFC. Tidak seperti di tempat lain, efek rumah kaca di pulau ini, hampir nihil. Selain itu, udara Gili Iyang mengandung banyak aerosol garam, terutama magnesium sulfat, yang dikenal dengan garam epsom. Di Asia, garam epsom dimanfaatkan untuk kesehatan dan kesegaran kulit, juga untuk pengobatan penyakit eklampsia yang dialami ibu hamil, selain digunakan sebagai tindakan medis awal bagi mereka yang terserang stroke.

Gili Iyang
Gili Iyang

Apa pun, Gili Iyang adalah surga kecil. Itu yang membawa langkahku menuju Pelabuhan Dungkek yang jadi pintu masuk Gili Iyang. Pelabuhan yang menghadap timur itu memiliki laut sangat biru dengan gelombang rendah. Sambil menunggu perahu yang akan membawa kami ke Gili Iyang, kami mengeksplorasi suasana pelabuhan. Nelayan-nelayan yang sedang menurunkan beberapa keranjang ikan di dermaga, tak lepas dari pengamatanku. Ikan-ikan itu begitu segar! Kesegaran ikan ditandai dengan mata yang bening, kulit yang kenyal, dan bau yang tak amis. Rasanya ingin memborong ikan kakap merah, tenggiri, dan kue! Terbayang ikan kakap dimasak woku-woku pedas berhias daun kemangi. Oh, alangkah sedapnya!

Gili Iyang
Gili Iyang

Untung kapal kami segara datang sehingga aku tak perlu berlama-lama bermimpi woku-woku. Untuk mencapai sisi barat pantai Gili Iyang, kami berlayar selama 40 menit. Udara pantai terasa segar dengan aroma garam berhembus menyentuh kulit. Agar dapat menyelesaikan trip ini dalam waktu 3 jam, kami menyewa odong-odong.

Dan, destinasi pertama sudah tentu adalah spot yang konon berkadar oksigen tertinggi! Lokasinya terletak di halaman rumah Ibu Misnariah Sahlan. Entah benar atau entah karena sugesti, begitu memasuki lokasi tersebut, udaranya terasa sejuk. Kesejukan itu mungkin disebabkan oleh banyaknya pepohonan.

Gili Iyang
Gili Iyang

Setelah puas menghirup udara segar, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Batu Canggah, dengan menyusuri sisi timur pulau melalui kebun-kebun penduduk. Lalu, kami tiba di sebuah ujung tebing dengan kemiringan hampir 90 derajat. Melalui tangga bambu setinggi 5 meter kami turun, dilanjutkan dengan menyusuri koridor tebing yang agak sempit dengan ketinggian 20 m dari permukaan laut. Sepanjang mata memandang kami dimanjakan oleh laut biru dan ombak-ombak yang menghantam tebing. Akhirnya, Batu Canggah pun muncul di hadapan kami! Ini adalah sebuah karang kapur yang seolah-olah menyangga tebing di atasnya. Kami pun terpana menyaksikan lukisan alam yang indah ini.

* Nina Adriani, dari berbagai sumber. Foto-foto: koleksi pribadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *