Darwis Triadi, Bermain Cahaya

Gonjreng.com – Meski cahaya adalah unsur vital dalam fotografi, namun foto-foto dramatis justru banyak yang dihasilkan dalam keterbatasan cahaya. Fotografer tak perlu khawatir dengan cahaya kurang. Ia hanya perlu pandai bermain cahaya dengan mengatur tiga komponen utama kamera yaitu diafragma, kecepatan, dan ISO. Dengan santai, mengenakan celana tiga perempat dan t-shirt hitam, maestro fotografi Indonesia, Darwis Triadi, memberikan pengarahannya di Museum Nasional, Jakarta, bulan November lalu. Acara workshop “Fashion Photography” tersebut adalah bagian dari pameran foto “Portrait of the World” yang diselenggarakan oleh Jakarta Photographers Society.

Darwis Triadi
Darwis Triadi

“Fotografi sebenarnya sederhana dan selalu berkisar di tiga hal itu – diafragma, kecepatan, dan ISO,” jelasnya. Aku mendengarkan dengan seksama. Sebagai fotografer pemula, aku selalu mengandalkan kekuatan cahaya untuk mendapatkan foto-foto yang jernih dan tajam. Namun sesungguhnya, efek-efek istimewa justru dihasilkan oleh kelihaian memanipulasi cahaya terbatas.

Darwis Triadi
Darwis Triadi

Darwis lalu menggiring para fotografer ke lorong-lorong museum. Ia memberi contoh bagaimana memotret agar hasilnya “berjiwa”. Tak jadi soal kamera mahal atau murah, tak jadi masalah fotografer profesional atau amatir, bahkan tak apa “hanya” mengandalkan kamera ponsel – semua orang bisa menghasilkan foto indah. Aku menyelip di antara kerumunan orang banyak mengikuti Darwis Triadi, mendengarkan instruksinya dengan cermat, lalu ikut memotret seorang model cantik di antara pilar dan arca-arca kuno. Selain trio diafragma-kecepatan-ISO, sebenarnya ada satu hal penting lainnya, yaitu angle atau sudut pandang. Dipandang dari sudut berlainan, obyek yang sama bisa membawa hasil jauh berbeda.

Darwis Triadi
Darwis Triadi

Lalu, apa diafragma itu? Aperture atau diafragma adalah bukaan lensa yang mengontrol cahaya masuk dan depth of field atau ketajaman foto – yakni bagian tajam dan kabur sebuah foto. Diukur dengan f-stops, angka kecil seperti f/3.5 menunjukkan bukaan lensa besar, foto lebih terang, namun ketajaman terbatas. Sedangkan angka besar seperti f-22 mengatur bukaan lensa kecil, foto lebih gelap, namun ketajaman penuh.

Selain bukaan, ada juga shutter atau “tirai” kecil di dalam kamera yang dengan cepat bergulung di depan sensor image untuk membiarkan cahaya menyinari image itu. Lamanya cahaya menerangi image disebut shutter speed, atau kecepatan, dan diukur dalam sepersekian detik. Kecepatan ½ detik memberikan waktu pencahayaan lebih lama dan gambar yang lebih terang dibandingkan kecepatan 1/200 detik. Kecepatan tinggi diperlukan jika kita ingin menangkap obyek bergerak dengan jelas, tanpa berbayang.

Darwis Triadi
Darwis Triadi

Dan, makhluk apakah ISO? ISO adalah software dalam kamera yang mengontrol sensitivitas terhadap cahaya. ISO tinggi seperti 1600 akan menghasilkan gambar yang lebih terang dibandingkan ISO rendah, namun rentan terhadap noise, atau butiran-butiran mozaik yang terdeteksi dalam gambar.

Lalu, mengapa kita harus repot-repot dan tidak membiarkan saja kamera canggih kita mengambil alih dalam automatic mode? Itu pertanyaan yang sering kudengar. Jawabannya, “Karena kita ingin meniupkan ‘ruh’ ke dalam foto.” Itulah bedanya seorang seniman fotografer, dengan tukang potret biasa.

* Sumber ilustrasi: koleksi pribadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *