Curug Parigi, Sebuah Curug di Tengah Kota

Gonjreng.com Bantar Gebang sebagai tempat pembuangan akhir (TPA) sampah lebih dikenal dibanding Curug Parigi. Curug yang ada di desa Cikiwul, kecamatan Bantar Gebang, Bekasi ini adalah satu-satunya curug yang berada di tengah kota.

Berbekal penasaran, juga malu bertanya sesat di jalan, berangkatlah kami ke Curug Parigi tadi. Alat transportasi pilihan adalah Commuter Line (CL) yang murah, bebas macet, dan sejuk. Dari Tebet menuju stasiun Manggarai, kemudian berganti CL tujuan Bekasi dengan waktu tempuh 30 menit. Kocek yang dikeluarkan hanya Rp. 3.000,- saja.

Clingak-clinguk mencari sumber informasi yang bisa dipercaya dan akurat. Petugas keamanan stasiun pun menginfokan angkutan yang bisa membawa ke Curug Parigi.

Kesulitan pertama sudah dialami saat menyeberangi jalan. Kendaraan yang hilir mudik di jalan selebar 4 meter tak karuan, sradak-sruduk, tak peduli dengan para penyeberang jalan.

Berikut ini daftar angkot dari Stasiun Bekasi menuju Curuk Parigi.

  • Angkot nomer 09B  mengantar ke Metropolitan Mall (MM).
  • Dari MM ganti ke angkot 25 tujuan Rawa Panjang.
  • Lalu pindah ke angkot 11 (sebelumnya harus menyeberang jalan dulu, tempat angkot 11 menunggu dan mengantarkan ke Pasar Bantar Gebang).
  • Setelah itu naik Angkot 92 jurusan perempatan Cileungsi, dan turun di seberang jalan Pangkalan IV (di depan PT Lancar Jaya), kemudian dilanjutkan jalan kaki sekitar 200-300 meter.
  • Semua angkot menarik ongkos Rp. 4.000 per tripnya.
  • Peta Lokasi

Beruntung supir angkot 92 tadi bersedia mengantar sampai ke Curug Parigi. Ketika memasuki jalan Pangkalan IV terlihat jalan beton yang di kiri-kanan yang ditumbuhi ilalang dengan bunga-bunga yang cantik yang menghalau hembusan hawa kurang sedap dari arah TPA Bantar Gebang.

Sekitar 200 meter, jalan terhalangi oleh rantai, disini kami harus membayar retribusi sebesar Rp. 10.000,-/mobil

Curug Parigi
jalan menuju Curug Parigi

Tidak jauh dari pos terdapat hamparan tanah merah dengan 2 buah warung makan, kami pun turun di situ. Penjaga warung menunjukkan arah menuju Curug Parigi yang sudah terdengar suara deburan air dan gemuruhnya. Dari ketinggian kami melihat sebuah curug yang memanjang. Jalan menurun cukup terjal, tapi ada tangga bambu yang memudahkan perjalanan. Jalan ini pasti licin dan becek jika hujan turun.

Curug Parigi melebar dari tepi sungai ke tepi sungai yang lain. Airnya coklat seperti kopi susu karena sedang banjir, sehingga bebatuan tidak terlihat karena derasnya air. Saat tidak hujan air yang mengalir dari kali Bekasi ini tetap keruh, meski tidak separah saat kami datang.

Ketinggian Curug Parigi sekitar 3-4 meter, dikelilingi pohon besar dan perdu. Dari sini pun terlihat beberapa ujung gedung perkotaan. Lapisan tanah disekitar curug merupakan bekas tumpukan sampah, atau masih perlu pembenahan besar untuk menjadikannya tempat wisata.

Masih banyak yang belum tahu Curug Parigi ini. Supir angkot kami yang menurut penuturannya sudah tinggal 5 tahun di Bantar Gebang pun baru tahu ada sebuah curug yang membuatnya penasaran dan bersedia mengantar kami hingga sampai ke tempat tujuan.

*Sumber gambar: dokumen pribadi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *