Concession Speech, Tahap Baru Kedewasaan Berdemokrasi

Gonjreng.com – Setelah Agus Harimurti Yudhoyono memberikan concession speech atau pidato kekalahannya pada pemilihan gubernur Jakarta tadi malam, puja-puji padanya langsung berhamburan di berbagai media. Keadaan ini bertolak-belakang dengan situasi sebelumnya, di mana Agus dan keluarga mantan presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, menjadi bulan-bulanan dan gunjingan. Agus, begitu pendapat media dan para netizen, adalah korban ambisi orangtuanya yang ingin terus berkuasa. Setelah tadi malam, Rabu 15 Februari 2017, Agus menyatakan ia menerima kekalahannya, berbagai kalangan memberikan hormat dan pujian. Meski concession speech, atau pidato menerima kekalahan, adalah hal yang biasa dalam pemilihan umum di Amerika Serikat (AS) dan negara-negara maju demokrasi lainnya, namun di Indonesia hal ini belum biasa. Concession speech yang diberikan Agus tadi malam telah menandai sebuah tahap baru kedewasaan berdemokrasi di Indonesia.

“Secara ksatria dan dengan lapang dada, saya menerima kekalahan saya…” ujar Agus tadi malam, yang langsung disambut oleh tepuk tangan para hadirin. Setelah itu ia mengucapkan selamat kepada pasangan Basuki-Djarot dan Anies-Sandiaga atas keberhasilan mereka memasuki putaran kedua pemilihan gubernur Jakarta. Agus mengundang simpati dan respek masyarakat karena mengungkapkan semua itu dengan nada dan bahasa tubuh yang terlihat tulus. Tak hanya itu, seperti halnya kebiasaan yang ada di AS, sebagai kandidat yang kalah, Agus menelepon langsung Basuki Tjahaja Purnama untuk memberikan selamat.

Meski pemilihan gubernur Jakarta ini begitu alot, sengit, hiruk-pikuk dan melelahkan, serta mengundang tak hanya perang opini namun juga aneka fitnah di media sosial, setidaknya ada pelajaran-pelajaran positif yang bisa dipetik. Selain concession speech yang ksatria ini, “perang media sosial” telah membuka mata kita terhadap hipokritas dan plot licin para politikus yang menghalalkan segala cara, termasuk memelintir agama, untuk mencapai ambisinya. Fitnah dan hoaxes yang bertebaran di media sosial, jika kita pandang secara positif, adalah tes yang tangguh untuk menguji kedewasaan bangsa ini. Apakah bangsa ini sanggup lulus sebagai bangsa unggul dan mumpuni di dunia? Atau, apakah kita ternyata masih di kelas itu-itu saja sebagai korban divide et impera, politik memecah belah dari musuh kita dalam selimut?

Terlepas dari semua itu, kudos untuk Agus! Ia telah menggariskan adab baru dalam dunia politik Indonesia yang carut-marut ini. Adab ksatria dan lapang dada inilah yang akan menempatkan kita di tingkat lebih tinggi dalam tatanan kemanusiaan. Sebagaimana Hillary Clinton menerima kekalahan pahitnya dari Donald Trump di pemilihan presiden AS di penghujung tahun lalu. “We must accept this result and look toward the future,” ujarnya dalam concession speech. “Donald Trump is going to be our president. We owe him an open mind and the chance to lead.”

Pengakuan kekalahan telah menjadi tradisi dalam pesta demokrasi di AS sejak 1896, ketika William Jennings Bryan mengirimkan sebuah “concession telegram” pada William McKinley dua hari setelah pemilihan presiden AS. Jiwa-jiwa besar dalam sejarah, tak hanya mampu menunjukkan kebesaran jiwanya dalam memimpin, namun juga mampu menunjukkan kebesarannya dalam menerima kekalahan. Kebesaran jiwa seperti ini terungkap juga dalam concession speech yang diberikan John Kerry saat ia kalah pada pemilihan presiden AS 2004, “What you did made a difference, and building on itself we go on to make a difference another day. I promise you that time will come.”

Mari, jiwa-jiwa besar, kita juga berikan yang terbaik pada bangsa ini. Mari kita melangkah pada tahap baru kedewasaan berdemokrasi!

* Dari berbagai sumber. Sumber ilustrasi: Baliberkarya.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *