Cinta Cuma Reaksi Kimia Hormon?

0 1041
Cinta
Cinta

Gonjreng.com – Mengapa saat kita jatuh cinta, jantung berdegub kencang seakan mau copot, keringat mengalir deras, dan mata tak bisa terpejam? Mengapa kita jatuh cinta pada seseorang yang istimewa dan tidak pada orang yang lain? Rasa indah dan misterius itu, apakah diciptakan Sang Pencipta agar spesies ini bisa bertahan? Baru-baru ini sebuah penelitian Rutgers University, AS, mengungkapkan rahasia cinta secara sains. Ternyata proses biologisnya sangat kompleks. Benarkah cinta itu cuma reaksi kimia berbagai hormon dalam tubuh kita?

Ada serangkaian reaksi kimia yang terjadi cepat dalam tubuh yang mampu memercikkan “api cinta” secara mendadak. Sebuah riset ilmiah yang dilakukan oleh Arthur Arun melaporkan, jatuh cinta hanya memerlukan waktu 90 detik hingga 4 menit saja. Penelitian yang dimuat dalam jurnal Psychopharmacology (2012) itu melaporkan beberapa faktor yang dominan adalah: bahasa tubuh (55%), frekuensi dan nada suara (38%), serta reaksi pada pilihan kalimat atau kata (7%). Menarik?

Penelitian yang dilakukan Rutgers University lebih menarik lagi. Hasil penelitiannya, ada 3 tahap yang terjadi pada proses jatuh cinta – yaitu lust atau lahirnya nafsu, attraction atau timbulnya ketertarikan, dan attachment atau kesediaan terikat. Ternyata dalam setiap tahapan tubuh manusia menghasilkan jenis-jenis reaksi kimia dan hormon-hormon yang berbeda.

Tahap 1: Lust atau Nafsu

Nafsu adalah tahap awal yang memulai seluruh proses jatuh cinta. Timbulnya nafsu ini didorong oleh hormon-homon seks dalam tubuh. Oestrogen dan Testoterone adalah dua hormon seks utama yang ada dalam jumlah sama pada laki-laki dan perempuan – yang bertanggung jawab memerintahkan timbulnya rasa senang dari lust, di dalam otak. Respon otak terhadap nafsu ini berpotensi meningkatkan kesehatan manusia dan menurunkan stres. Kenikmatan yang dihasilkan diperlukan manusia untuk ketahanan dan kesediaannya melakukan mating, atau senggama – dan dengan demikian, manusia dapat melahirkan keturunan-keturunannya.

Tahap 2: Attraction atau Ketertarikan

Tahapan ini sering digambarkan sebagai saat-saat terindah dalam hidup manusia. Ini adalah tahap di mana proses jatuh cinta dimulai. Ketidaksabaran untuk menarik perhatian seseorang menimbulkan kegembiraan yang luar biasa, dan seseorang yang berada dalam tahap ini seringkali tak berdaya mengontrol pikirannya, kecuali terus menerus memikirkan orang yang menjadi obyek perhatiannya. Ada tiga sub-tahapan dalam tahap ini yaitu:

(1) Adrenalin

Para ilmuwan meneliti, yang terjadi pada manusia di tahap ini adalah (a) timbulnya stres, (b) meningkatnya hormon Adrenalin dan Cortisol, dan (c) perubahan sikap. Secara spesifik dalam penelitian disebutkan, setiap orang yang jatuh cinta akan mengalami perubahan pada ketiga hal tersebut. Ketertarikan akan mengubah sikap seseorang, dan biasanya positif. Karena hormon Adrenalin meningkat, jika kita bertemu dengan obyek ketertarikan kita, maka jantung kita akan berdegub kencang, mulut menjadi kering, dan lidah terasa kelu.

(2) Dopamine

Ketikan pasangan yang saling jatuh cinta diobservasi dengan menggunakan functional MRI (Magnetic Resonance Imaging), secara mengejutkan hasilnya menunujukkan bahwa otak dari keduanya dibanjiri oleh neurotransmitter Dopamine, hormon yang menimbulkan rasa nikmat dalam tubuh manusia. Dopamine adalah stimulan alami untuk ecstasy, atau perasaan suka cita yang melimpah. Yang terjadi di tahap ini adalah (a) banjir energi, (b) penurunan rasa lapar, (c) tidur lebih sedikit, dan (d) perhatian bisa lebih fokus.

(3) Serotonin

Zat kimia yang dijumpai meningkat di tahap ini adalah Serotonin. Serotonin menyebabkan pikiran selalu terikat pada obyek ketertarikan kita, dan tidak pada yang lain.  Pada penelitian yang dilakukan Sandra Langeslag (2012), level Serotonin pada laki-laki dan perempuan yang jatuh cinta, ternyata berbeda. Laki-laki memiliki Serotonin yang lebih rendah dari perempuan.

Tahap 3: Attachment atau Keterikatan

Jika pasangan yang jatuh cinta dapat melalui dua tahap awal dengan sukses, maka keterikatan di antara keduanya menjadi makin kuat. Inilah yang menyebabkan keduanya bersedia untuk terikat lebih dalam lagi. Di tahap ini timbullah keinginan untuk memiliki anak dan mencintai keluarga dengan sepenuh hati. Tahap ini memiliki dua sub-tahapan, yaitu:

(1) Oxytocin

Oxytocin yang juga terkenal sebagai “hormon peluk” adalah salah satu hormon kuat yang dihasilkan dalam kuantitas sama pada laki-laki dan perempuan pada saat orgasme. Oxytocin merangsang cinta yang lebih dalam dan keterikatan pada partner. Sebuah penelitian lain melaporkan, semakin sering pasangan melakukan hubungan seks, semakin kuat keterikatan mereka pada satu sama lain. Oxytocin juga memperkuat keterikatan antara ibu dan bayinya.

(2) Vasopressin

Hormon yang terproduksi segera setelah hubungan seks ini akan meningkatkan (a) fungsi interpersonal, (b) kemampuan bersosialisasi, (c) rasa tanggung jawab pada pasangan, (d) komitmen hubungan, dan (f) keinginan menjaga kelestarian hubungan.

Nah, meski penelitian ini menjelaskan proses jatuh cinta secara kimiawi, namun keilmiahannya tak perlu mengurangi kesakralan cinta itu sendiri. Jatuh cinta, dan cinta yang abadi, tetap sesuatu yang misterius, hadiah terbesar Sang Pencipta pada umat manusia.

* Sumber: Why We Fall in Love: The Science of Love by Sarah Gehrke in examinedexistence.com. Sumber ilustrasi: pexels.com.

Category: PelangiTags:
No Response

Leave a reply "Cinta Cuma Reaksi Kimia Hormon?"