Mengapa Cemara dan Kastuba Jadi Hiasan Khas Natal?

cemara dan kastuba

Gonjreng.com – Pohon cemara dan kastuba, atau poinsettia, banyak kita temui sebagai hiasan khas Natal di bulan Desember. Pohon cemara selalu identik dengan pohon Natal yang cantik menghiasi berbagai rumah, perkantoran dan pusat perbelanjaan – mulai dari yang berukuran kecil hingga raksasa, asli maupun yang terbuat dari plastik. Sedangkan kastuba yang berwarna merah menyala selalu menjadi pewarna Natal yang semarak. Tetapi, bagaimana kisahnya sampai pohon cemara dan kastuba menjadi hiasan khas Natal?

Ternyata pohon cemara telah digunakan untuk merayakan festival musim dingin jauh sebelum agama Nasrani hadir oleh masyarakat di penghujung Utara bumi. Festival musim dingin dirayakan pada saat matahari berada di titik balik matahari, saat yang ditandai dengan waktu siang terpendek dan matahari yang seperti bergerak amat lambat, sehingga terlihat diam. Saat ini biasanya jatuh pada tanggal 21 -22 Desember.

Cemara yang tetap hijau (evergreen) pada musim dingin dianggap melambangkan harapan akan abadinya kehijauan, atau kehidupan, di segala musim, di sepanjang waktu. Kebiasaan menggunakan cemara untuk perayaan ini kemudian diadopsi oleh kaum Nasrani pada saat merayakan Natal. Penggunaan pohon Natal paling tua yang tercatat dalam sejarah berasal dari kota Tallin di Estonia pada tahun 1441, dan kota Riga di Latvia di tahun 1510. Awalnya pohon Natal dihias dengan apel, kacang, kurma, pretzel dan bunga dari kertas. Kebiasaan ini kemudian menyebar ke seluruh Eropa, lalu dibawa para imigran ke Amerika, dan ke seluruh dunia hingga saat ini.

Selain pohon cemara, tanaman kastuba (Euphorbia pulcherima) atau poinsettia yang berasal dari Meksiko, juga diidentikkan dengan Natal. Banyak yang mengira daun kastuba yang berwarna merah adalah kelopak-kelopak bunga. Namun sesungguhnya bunga kastuba justru berwarna kuning dan berukuran kecil. Sedangkan daun-daun kastuba di bagian atas, pada umur tertentu akan berubah warna dari hijau menjadi merah. Warna daun yang merah menyala inilah yang membuat daun kastuba digunakan sebagai pengganti bunga saat musim dingin. Selain merah, ada juga poinsettia yang berwarna merah jambu, putih, dan kuning. Pada bulan Desember daun-daun yang berubah warna menjadi merah ini sangat ideal digunakan sebagai hiasan khas Natal.

Nama poinsettia sendiri diambil dari Joel Roberts Poinsett, duta besar Amerika di Meksiko. Poinsett adalah orang yang membawa tanaman ini ke Amerika pada tahun 1825. Bentuk daunnya sering dianggap melambangkan bintang Betlehem yang menuntun tiga orang bijak ke tempat Yesus lahir. Warna merah daunnya merupakan simbol dari darah Yesus. Suku Aztek menggunakan daunnya yang berwarna merah untuk mewarnai kain dan kosmetik. Sedangkan getahnya dipakai untuk mengobati demam. Bagi suku Aztek, poinsettia melambangkan kesucian, dan digunakan dalam upacara keagamaan mereka.

* Dari berbagai sumber. Foto-foto: koleksi pribadi.

Category: PelangiTags:
No Response

Leave a reply "Mengapa Cemara dan Kastuba Jadi Hiasan Khas Natal?"