Bicara Tentang Etika Medsos? Terlambat!

Bicara Tentang Etika Medsos? Terlambat!

Gonjreng.com – Ranah media sosial (medsos) Indonesia saat ini sedang gonjang-ganjing dikuasai para bigot. Bigot artinya orang yang sangat intoleran terhadap orang lain yang memiliki pendapat beda dengannya, dan mengungkapkannya secara ad hominem dan kasar – yaitu “membabi-buta” menyerang lawan melalui sudut pribadi yang tidak relevan dan di luar konteks. Contohnya, “Dasar antek Cina lu!” Atau, “Kamu tak bisa dipercaya karena Syiah!” Atau, “Dia harus digilas dari bumi karena kafir!” Berbagai kalimat-kalimat kotor bahkan maki-makian kasar yang menghakimi dan tak pantas berseliweran di medsos setiap saat, menimbulkan pertanyaan: Terlambatkah bicara etika medsos?

Namun sebenarnya, pertanyaan-pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: Apakah bangsa Indonesia telah sakit tertular virus konflik dari Jazirah Arab? Atau, quo vadis-kah Islam Indonesia yang rukun, damai, dan saling menghormati?

Oke. Kita singkirkan selimut ketidakpedulian dulu. Jawaban terhadap pertanyaan pertama: ya, kita sudah sangat terlambat bicara etika sopan-santun di medsos. Saat ini medsos telah dijadikan ajang “cyber wars” mumpuni antara berbagai kekuasaan yang berebut kepentingan, dengan menghalalkan segala cara. Tidak adanya sopan-santun, serangan ad hominem yang bertebaran, dan badai teror pada “the ignorant, skeptical, silent majority” – telah memecah banyak persahabatan dan menimbulkan keretakan di mana-mana.

Ah. Mungkin ada yang dengan naïf berpikir gerakan ini hanyalah sporadis belaka. Ninin Damayanti, salah seorang “selebriti medsos” yang berhaluan pluralis dan memiliki lebih dari 1.300 followers di akun Facebook (FB)-nya mengungkapkan, “Gak usah heran kalau belakangan banyak akun-akun tukang spinning bermunculan dengan menyebarkan hoax dan fitnah. Lha wong mereka sudah bikin persiapan matang bentuk tim cyber. Semut inilah, cyber troops (atau) apalah, cyber army itulah (yang bertempur) sambil membawa identitas sektarian.”

Selanjutnya ia menulis, “Bahkan ‘Yang Mulia Jonru’ saja sudah didaulat sebagai pakar cyber dan bikin ‘pelatihan cyber’ di sebuah masjid kecil di Sumbar. Sementara Rizieq cs konkrit bikin pelatihan ‘melek cyber’ di sebuah pesantren di Jawa. Garis komando mereka sangat jelas. Jobdes-nya juga taktis. Jarkom-nya bersih. Ada yang jadi ‘pasukan jempol’ buat report akun – seperti kasus akun Dina Sulaeman, ada yang bertugas menyebarkan sampai viral (konten-konten) di medsos sampai grup-grup WA. Bahkan ada simpul yang gerakin users Android buat maksimalkan penyebaran konten dengan tag  ‘Jihad Android’. Mereka sudah terang-terangan bikin declare cyber war.” (Ninin Damayanti, FB, 20 Desember 2016).

Dan, siapakah Dina Sulaeman yang akunnya diblokir FB? Dina adalah pengamat dan ahli Hubungan Internasional yang menyelesaikan pendidikan S1 hingga S3-nya di Universitas Pajajaran, Bandung. Ia sering menulis tentang kajian Timur Tengah di medsos. Baru-baru ini, karena mengungkapkan pandangan berbeda dalam kasus konflik Suriah, akun Dina dilaporkan secara masal oleh para ‘pasukan jempol’ ke FB yang mengakibatkan akunnya diblokir. Meski akhirnya Dina bisa menghidupkan lagi akunnya setelah menghubungi FB, ini adalah contoh ‘agresi cyber’ oleh ‘pasukan jempol’ yang berhasil membungkam.

Dalam blognya, Dina menulis, “Sayang sekali, aksi sejenis ini terjadi berkali-kali di Indonesia (memblokir/melarang gereja… mengusir kaum Ahmadiyah dan Syiah dari rumah mereka dengan tuduhan kafir, dan lain-lain). Terlihat kan, para bigot pembela mujahidin ‘satu-kubu, satu pemikiran’ dengan kelompok intoleran di Indonesia? Betapa berbahayanya buat Indonesia. Buat yang lain: paham kan sekarang, bahwa isu Suriah ini erat kaitannya dengan nasib bangsa ini? That’s why I kept on writing about this. That’s why.” (dinasulaeman. wordpress.com, 18 Desember 2016).

Ini hanyalah beberapa contoh dari lautan kasus yang membanjiri rumah dan grup medsos saya, baik publik atau pun pribadi. Maka, jika kita bicara soal etika medsos saat ini, rasanya seperti anjing menggonggong. Terlambat. Inti permasalahannya bukan di situ. Cyber war telah dimulai. Akankah kita berdiam diri, dan menjadi saksi sejarah atas “quo vadis-nya Indonesia yang rukun dan damai” ini?

* Sumber ilustrasi: flickr.com.

One thought on “Bicara Tentang Etika Medsos? Terlambat!

  • 13/10/2020 at 5:24 am
    Permalink

    Hi guys,

    I am looking to get in touch with someone that works with your marketing or support team. My name is Samantha, and I help clients install/replace live chat software on their websites.

    If your company has considered adding or changing chat software providers on gonjreng.com, we do live webinars each week to demo our product and encourage anyone to attend a 30 minute session. Our product comes with a 30 day money-back guarantee, so you can truly experiment and see if it improves sales/support interactions with your visitors.

    Would you be interested in trying it out? I’d be happy to answer your questions!

    Samantha Milan
    Chat Service Division, Tyipe LLC
    500 Westover Drive, #15391
    Sanford, NC 27330

    Not interested? Feel free to opt out here http://esendroute.com/remove?q=gonjreng.com&i=14

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *