Bertualang di Taman Nasional Gunung Halimun-Salak

Halimun-Salak
Halimun-Salak

Gonjreng.com – Hujan rintik-rintik mengiringi perjalanan kami ke Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Bogor. Dari Jakarta kami menuju Leuwiliang untuk kemudian berbelok ke jalan yang makin mengecil dan menanjak. Akhirnya kami tiba di gerbang Taman Nasional Gunung Halimun-Salak. Kami sempat berhenti untuk berfoto di depan gerbang. Tujuan kami, desa Citalahab, bisa dicapai dalam waktu 1 jam lagi. Tak lama setelah melewati gerbang, jalan berubah menjadi berbatu-batu dan berlubang. Namun pemandangan yang terhampar di depan kami luar biasa indah. Pepohonan besar berganti menjadi sawah berundak secantik sawah di Ubud. Kemudian hamparan kebun teh Nirmala yang bak permadani hijau menyapa kami.

Halimun-Salak
Halimun-Salak

Setelah makan siang di Citalahab, kami memulai trekking menuju Cikaniki dengan diiringi dua pemandu, pak Asep dan Saiful. Pak Asep menerangkan bahwa rute trekking kami adalah jalur hutan primer. Hutan primer adalah hutan yang terjaga keasliannya dengan habitat yang terjaga keseimbangannya. Di awal trekking kami disapa oleh bukit terjal dan licin, sebelum akhirnya jalur menjadi lebih bersahabat. Kami diperkenalkan pada berbagai tanaman. Ada pohon kapulaga, tepus yang mirip dengan kecombrang, dan rotan. Kami bahkan mencoba memakan beberapa tanaman yang bisa dimakan. Saat mengunyah batang pohon jenis begonia, wajah kami langsung berkerut. Rasanya asam! Makin lama pepohonan yang kami temui makin tinggi dan besar. Beberapa pohon rasamala bahkan mempunyai diameter batang lebih dari 1 meter. Sesekali pemandu mengingatkan kami untuk tidak memegang pohon rengas karena bisa menyebabkan gatal.

Halimun-Salak
Halimun-Salak

Kemudian kami melihat pohon-pohon yang diikat dengan tali berwarna. Rupanya merupakan penanda pohon yang disukai kera owa Jawa, surili, atau lutung oleh peneliti. Benar saja kami melihat beberapa surili berayun tinggi di atas pohon. Warna tubuhnya yang kecoklatan terlihat di antara dedaunan. Kami mendengar jeritan owa Jawa dan lutung, namun tak dapat melihat mereka. Selain ketiga jenis kera tersebut, di Taman Nasional itu juga terdapat beberapa mamalia yang dilindungi, seperti macan tutul, kucing hutan, anjing hutan, sigung, dan kukang. Meski kami tak melihat sigung, namun bau khasnya sering tercium di sepanjang jalur trekking. Hutan primer ini juga menjadi tempat tinggal berbagai burung langka, terutama elang Jawa.

Taman Nasional Gunung Halimun-Salak yang luasnya 113.537 hektar  dan membentang di dua provinsi, yaitu Jawa Barat dan Banten ini memiliki hutan hujan tropis primer yang masih terjaga baik. Di dalamnya ada lebih dari 700 jenis tumbuhan berbunga, 258 spesies anggrek  (1/3 dari seluruh jenis anggrek di Jawa) berbagai pohon, perdu, pisang-pisangan, epifit, palem, dan liana. Hutan ini juga memiliki 13 spesies rotan dan 12 spesies bambu. Kami banyak menjumpai mata air dan sungai kecil. Di salah satu aliran sungai yang kami lewati, pemandu mempersilakan kami meminum airnya, karena hasil pemeriksaan air sungai ini di laboratorium menunjukkan kualitas yang lebih baik dari air kemasan.

Halimun-Salak
Halimun-Salak

Matahari telah condong ke barat saat kami tiba di stasiun riset Cikaniki. Sambil menanti gelap tiba kami beristirahat di pelataran stasiun riset tersebut. Saat malam tiba, kami memasuki hutan kembali. Berjalan di hutan gelap hanya diterangi oleh senter memberikan sensasi tersendiri. Sampai di satu tempat, pemandu kami meminta semua senter dimatikan. Dalam gelap gulita samar-samar terlihat titik sinar hijau berkelap kelip. Bertebaran di beberapa tempat, cahaya tersebut berasal dari jamur. Glowing mushrooms hanya dapat ditemui saat musim hujan saja.

Puas melihat jamur, kami pun kembali ke Citalahab untuk beristirahat. Kali ini melalui jalan berbatuan di kebun teh Nirmala. Badan lelah namun hati puas karena dapat mengenal Taman Nasional Gunung Halimun-Salak. Sungguh Indonesia sangat kaya dengan keanekaragaman hayati. Semoga kita dapat menjaga dengan baik karunia Allah yang luar biasa ini.

* Sumber berita: halimunsalak.org. Sumber gambar koleksi Ros Watini, Laksmi D. Haryanto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *