Belajar Menyelam di Usia 50 Tahun, Kenapa Tidak?

Belajar Menyelam di Usia 50 Tahun, Kenapa Tidak?

Gonjreng.com – Aku menarik napas dalam-dalam sambil menekan tombol deflate pada BCD (buoyancy control device). Perlahan-lahan tubuhku tenggelam. Kulihat pak Andi, instrukturku, memberi isyarat untuk melakukan ekualisasi. Segera kutekan hidungku sambil meniupkan udara untuk menyamakan tekanan udara di telinga dengan tekanan udara dalam air. Air laut mengepungku dari segala penjuru. Jantung berdetak keras. Aku berusaha fokus bernapas melalui regulator di mulut dan melakukan ekualisasi sampai pak Andi memberi tanda untuk mulai berenang. Aku berhasil!

Di kiriku tampak dinding karang dan tumbuhan laut beraneka jenis dan bentuk, dikitari oleh ikan-ikan kecil yang berenang hilir mudik. Meski tak seindah karang yang kulihat di Bali atau Flores, namun aku tetap takjub. Selama ini aku hanya snorkeling, dan baru kali ini menyelam di kedalaman 12 meter di perairan Kepulauan Seribu, Jakarta.

Setelah belajar teori 2 kali di kelas dan praktek di kolam renang 4 kali, inilah dive-ku yang pertama. Dan terus terang, aku tegang. Meski aku melakukannya bersama seorang buddy  (pasangan) yang juga sesama peserta kursus, namun dive pertama kami tetap diawasi oleh instruktur.

Aku baru belajar menyelam pada usia menjelang 52 tahun! Semenjak bungsuku melanjutkan pendidikannya di Bandung, aku hanya berdua suami saja, dan rumah menjadi sepi tanpa anak-anak. Waktu luangku menjadi sangat banyak. Untuk mengisi waktu dan menghindari kesepian, aku memulai berbagai kegiatan seperti kursus kerajinan tangan decoupage (menghias benda dengan tisu), shibori (jumputan ala Jepang) hingga menulis untuk website, dan memperbaiki bacaan Al-quran.

Aku juga bepergian dengan berbagai teman ke berbagai tujuan wisata yang menarik, hingga mendaki Gunung Papandayan, dan berkemah di puncak bukit. Hal-hal ini sebelumnya tidak pernah kulakukan. Tentu kemudian banyak yang heran dan bertanya, mengapa baru setelah berusia 50 tahun aku memulainya? Dan, jawabannya? Sederhana saja. Baru sekarang aku punya waktu.

Setelah lulus kuliah, aku sibuk bekerja, menikah, dan membesarkan anak. Baru setelah kedua anakku kuliah dan bekerja, aku memiliki waktu luang. Aku bersyukur diberi kesehatan, dan terbukalah jalanku untuk menikmati keindahan ciptaan Allah. Keinginan belajar menyelam kemudian timbul setelah aku melakukan beberapa kali snorkeling di Tulamben, Sumbawa, dan pulau Komodo. Lautan begitu luas dan indah, dan tidak puas rasanya hanya memandang dari atas saja. Maka, kuteguhkan hati untuk belajar menyelam.

Meski tak mudah, setelah empat kali menyelam di Kepulauan Seribu serta melakukan serangkaian skill test, akhirnya aku menggenggam sertifikat open water! Ini memang baru sertifikat pemula, tapi paling tidak kini aku bisa menikmati keindahan dalam laut hingga 18 meter. Usia bukanlah hambatan untuk mengagumi ciptaan-Nya!

* Darmayani Utami. Sumber foto: pixabay.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *