Barack Obama, ‘Presiden Jawa’ Amerika Pertama

Gonjreng.com – Rupanya banyak yang memerhatikan gesture atau gerakan tubuh aneh dari Barack Obama, saat ia melakukan presidential debate dengan Mitt Romney di musim gugur 2012 lalu. Gerakan aneh itu tidak biasa dilakukan oleh orang-orang Barat. Berkali-kali Obama menunjuk lawan bicaranya bukan dengan jari telunjuk, melainkan dengan jempol! Edward L. Fox, penulis buku Obscure Kingdoms (1993), buku tentang raja-raja dari kerajaan non Barat, yang pernah tinggal di Indonesia, tahu betul: itu adalah gesture khas masyarakat Jawa. Maka setelah berulang kali ia menyaksikan Barack Obama melakukan gerakan yang sama di berbagai ‘pertempuran verbal’ menghadapi lawan-lawannya, tanpa ragu Fox menyebut Obama sebagai America’s first Javanese president, atau presiden Jawa Amerika yang pertama.

“Secara sadar atau tak sadar, Obama mengungkap kebiasaan masa kecilnya saat tinggal di Pulau Jawa, di mana menunjuk seseorang dengan jari telunjuk dianggap tidak sopan,” tulis Fox dalam artikel berbahasa Inggris No drama, King Obama di situs aeon.co. “Aku terkejut melihat kebiasaan Jawa itu ternyata melekat dalam dirinya.”

“Tidak seperti analis politik lainnya,” lanjut Fox dalam tulisannya, “Aku melihat imprint  (cetakan) Jawa dalam diri Obama jauh lebih kental dibanding imprint Hawaii (di mana ia dilahirkan dan di kemudian hari menyelesaikan SMA-nya); lebih dari imprint Chicago (di mana ia memulai karir politiknya), dan jelas-jelas lebih dari cetakan Kenya (yang sering dituduhkan memengaruhi keputusan-keputusan politiknya).”

Meski Obama melakukan perjalanan ke Kenya dalam rangka mencari jati dirinya dan menulis buku Dreams from My Father (1995) tentang ayahnya, pengaruh terbesar yang tertancap dalam dirinya adalah pengaruh inter-cultural sang ibunda tercinta, Ann Dunham. Perempuan kulit putih ini adalah seorang antroplog luar biasa yang mengabdikan dirinya untuk meneliti industri kecil di pedesaan-pedesaan di Jawa, bekerja di bidang pengembangan ekonomi, sambil membesarkan kedua anaknya. Presiden Amerika Serikat ke-44 ini memang menghabiskan masa kecilnya di pulau Jawa, di mana sang ibu dari pernikahan keduanya, memberinya seorang adik perempuan. Fox berargumentasi, “Di Jawa inilah Obama belajar dan mengadopsi gaya cool, kalem, lembut, ketenangan dan keanggunan khas Jawa yang melahirkan julukan ‘No Drama Obama’ untuknya. Semua itu gaya ideal Jawa.”

Fox menekankan, orang Jawa mengutamakan ketenangan, hubungan harmonis, dan menghindari konflik – dan Dunham mendidik anaknya dengan nilai-nilai ini. Bahkan dalam memoir-nya Obama mengingat, ibunya selalu menyemangati agar ia berakulturasi cepat dengan budaya Jawa. “Ibu mengajariku menanggalkan ketidakpedulian dan kesombongan yang sering jadi karakter orang-orang Amerika di luar negeri.”

Obama, menurut Fox, memiliki karakteristik raja-raja Jawa yang halus, berkarisma, namun ‘sakti’. “Like a Javanese king, Obama has never taken on a political fight that he has not, arguably, already won.”

* Laksmi D. Haryanto. Sumber: No drama, King Obama by Edward L. Fox, in www.aeon.co. Sumber ilustrasi: obamawhitehouse.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *