Bakpia dan Becak, Marketing Gaya Yogyakarta

0 292
bakpia dan becak

Gonjreng.com – Tou Luk Pia (Hokkian), adalah sejenis kue yang berisi daging. Karena namanya sulit diucapkan dan karena banyak lidah tidak bisa kompromi, atau ada yang terpeleset lidahnya, sebutan tersebut lambat laun menghilang berganti menjadi bakpia. Kalau yang satu ini, pasti sudah sangat akrab ya, terutama bagi yang sudah sering merapat ke Yogyakarta.

Jangan bingung, bakpia yang sekarang terkenal sebagai makanan khas Yogyakarta, sebenarnya lahir di China. Namun dalam perjalanannya, kue ini beradaptasi  dalam bentuk, isi dan rasa yang berbeda. Bakpia yang kita kenal saat ini tidak lagi berisi daging melainkan berisi kacang hijau, coklat, keju, kombu hitam, dan yang lebih modern berisi matcha (teh hijau)

Becak Yogyakarta

Lah, kenapa penganan ini menjadi begitu ngetop di Yogyakarta, bahkan menjadi oleh-oleh khasnya? Di tahun 1948, Goei Gee Oe seorang keturunan Tionghoa, berupaya membuat bakpia untuk menghidupi keluarganya. Hasil industri rumah ini dijual di depan rumah secara eceran, tidak dimasukkan ke toko. Penganan buatan Goei Gee Oe tidak dikemas dan tanpa nama seperti saat ini. Mereka menjajakannya dari rumah ke rumah dengan menggunakan wadah anyaman bambu atau besek. 

Dengan makin banyaknya peminat bakpia, industri rumahan ini terus menjamur. Wilayah Pathok yang merupakan daerah tempat tinggal Goei Bee Oe akhirnya menjadi sentra pembuat bakpia. Untuk membedakan produksi masing-masing, mereka menggunakan nomer rumah sebagai merek dagangnya. Pada tahun 1980, daerah Pathok menjadi begitu terkenal sebagai pusat pembuatan dan perdagangan Tou Luk Pia isi kacang hijau. Kemasan sudah beralih rupa menjadi dus dengan angka besar yang menandakan rumah produsennya.

Yang menarik adalah, begitu banyak produsen dan penjual bakpia, tapi tetap menjadi pilihan favorit dan laris manis. Siapa sih, ujung tombak marketing mereka? Mau tahu? Siapa yang palig mudah dijumpai di halaman stasiun, toko-toko, pusat keramaian, di depan hotel atau guest house? Yup, ujung tombak marketing mereka adalah para penarik becak! Nah, para penarik becak inilah yang merupakan reklame berjalan dan perayu ulung, yang dengan gigihnya rela mengantarkan ke perajin walau dengan bayaran hanya lima ribu rupiah, jauh atau dekat.

Mengapa mereka begitu gigih mengajak bahkan sedikit memaksa, mengantar para turis lokal atau mancanegara? Di balik semua bujuk-rayu dan sedikit paksaan, ada “uang” di sana. Setiap mereka mengantar ke produsen, maka akan ada pegawai yang mencatat berapa banyak tamu yang mereka antar, yang berbelanja di toko itu. Bagaimana ketepatan pencatatannya? Para penarik becak mengatakan mereka percaya pada “cara kampung” tersebut. Modalnya hanya percaya. Di akhir hari mereka akan mengantri untuk mendapatkan bonus mereka.

Nah, menarik, bukan? Ternyata di Yogyakarta, produsen bakpia dan penarik becak adalah simbiosa mutualisme yang membumi.

* Dari berbagai sumber, foto: koleksi pribadi dan pixabay.com

Category: KelanaTags:
No Response

Leave a reply "Bakpia dan Becak, Marketing Gaya Yogyakarta"