Bagaimana Jembatan Akar Baduy Bisa Tercipta?

0 531
Jembatan Akar
Jembatan Akar

Gonjreng.com – Jembatan akar Baduy? Saat temanku mengajak bermalam di rumah penduduk Baduy Dalam di desa Cibeo – aku sangat tertarik sekaligus gamang. Masyarakat Baduy yang kini berjumlah sekitar 5000 hingga 8000 jiwa, yang bermukim di desa Kenekes, di kaki pegunungan Kendeng, sekitar 40 kilometer dari kota Rangkasbitung, Banten – terkenal sebagai suku yang terisolasi, teguh memegang adat nenek moyang, dan menolak teknologi atau peradaban maju.

Lalu, selain keteguhan memegang adat, apa lagi yang menarik dari desa gelap tanpa listrik, tanpa TV atau radio, tanpa sinyal telepon, apalagi wifi? Meski gamang karena membayangkan harus bermalam di desa yang ‘belum beradab’ – toh rasa ingin tahuku yang dalam membawa kakiku melangkah ke sana juga.

ninajembatanBegitu tiba, pemandu kami, Pak Udin, segera mengajak kami melihat jembatan akar yang unik! Betul saja, jembatan akar istimewa ini ternyata bisa mengobati kelelahan kami setelah lima jam bermobil dari Jakarta ke Ciboleger, Rangkasbitung, ditambah perjalanan angkot menuju desa terdekat dengan jembatan, ditambah perjalanan kaki yang ngos-ngosan sepanjang kira-kira tiga kilometer.

Begitu turun dari angkot, dengan semangat kami melangkah mengikuti Pak Udin melalui jalan menurun, melintasi ladang-ladang Baduy Luar yang sudah siap ditanami menjelang musim hujan, dan melewati pohon-pohon durian yang mulai berbunga. Awalnya kami masih bercanda sambil sekali-sekali memotret pemandangan. Namun kemudian tawa kami pun berubah menjadi napas terengah-engah karena jalan terus menanjak.

Tetapi begitu kami memasuki desa Gerendeng di wilayah Baduy Luar yang tertata rapi, kelelahan segera sirna. Kami melewati sebuah tangga di tengah-tengah desa di mana kanan kirinya adalah rumah-rumah penduduk. Di sela-sela jejeran rumah, terlihat lumbung-lumbung padi.

ninajembatan2Setelah berjalan kaki 40 menit, akhirnya tibalah kami di desa Batara, di mana jembatan akar itu berada. Sungguh istimewa! Menggantung di tengah-tengah sungai yang dialiri air jernih kehijauan, jembatan ini terbuat dari akar-akar pohon hidup yang melilit-lilit di kedua sisinya. Di tengahnya terdapat topangan batang-batang bambu untuk pijakan.

Bagaimana jembatan akar itu tercipta? Ada versi yang menyatakan bahwa awalnya jembatan itu hanyalah jembatan bambu biasa. Namun selang beberapa puluh tahun kemudian, akar-akar pepohonan besar di sekitarnya yang tumbuh memanjang, ikut meliliti jembatan itu dan membuatnya menjadi jembatan akar yang unik. Ada juga yang mengisahkan, bahwa jembatan akar itu dibuat oleh Pak Sayunah, seorang Baduy yang saat ini masih hidup dan tinggal di desa Penyerangan. Jembatan yang panjangnya sekitar sepuluh meter itu diperkirakan telah berumur antara 40 hingga 50 tahun.

Ah, betapa beruntungnya bisa menyaksikan jembatan istimewa ini. Sebelum kembali ke Ciboleger, kami sempat turun menikmati dinginnya air sungai, sambil duduk di bebatuan. Rasanya tenang dan bahagia.

* Nina Adriani. Sumber foto: koleksi pribadi.

Category: KelanaTags:
No Response

Leave a reply "Bagaimana Jembatan Akar Baduy Bisa Tercipta?"