Baduy Pun Kini Sudah Jauh Berubah

0 542
Baduy
Baduy

Gonjreng.com – Dalam perjalanan menuju kampung Baduy yang terletak di kaki pegunungan Kendeng, desa Kenekes, sekitar 40 kilometer dari kota Rangkasbitung di Banten, yang kubayangkan adalah sebuah suku yang kolot memegang adat istiadat kunonya, menolak modernisasi, tertutup, dan menjaga jarak terhadap orang luar. Namun bayangan itu segera pupus, begitu kakiku melangkah ke Cibeo, salah satu desa utamanya.

Nama Baduy sendiri berasal dari peneliti Belanda yang menyamakan masyarakat terpencil ini dengan suku semi nomad Arab Badawi, atau Bedouin.

Perjalanan menuju ke sana bisa dilakukan dengan bus atau kereta menuju Rangkasbitung, sebelum lanjut ke Ciboleger, pintu masuk ke Baduy. Dari Jakarta, aku dan teman-teman memutuskan mengendarai mobil selama lima jam ke Ciboleger, dan beristirahat semalam di sana, sebelum berjalan kaki ke Cibeo. Kami berniat membelah wilayah Baduy luar menuju dalam, dan ingin membuktikan apakah benar masyarakat Dalam begitu kuat menjaga cara hidup tradisional mereka.

Kelompok Baduy Dalam adalah yang paling ketat mengikuti adat nenek moyangnya, yakni Sunda Wiwitan, yang antara lain tidak menggunakan kendaraan sebagai alat transportasi, berjalan tanpa alas kaki, tidak memakai teknologi dan elektronik, dan hanya boleh berpakaian kain tenunan sendiri yang berwarna hitam atau putih. Sementara, Baduy Luar telah lebih longgar dalam menerima modernisasi, telah menggunakan teknologi dan peralatan listrik, memakai pakaian selain hitam, dan kadang bahkan mengenakan kaos atau jeans.

Saat sedang sarapan, kami diperkenalkan pada Asmin, seorang laki-laki Baduy Dalam yang akan menolong membawakan barang. Ia juga akan menjadi tuan rumah selama kami berada di Cibeo. Berbeda dengan bayanganku, ternyata Asmin sangat ramah, murah senyum, dan pandai bergurau.

Setelah turun naik bukit selama 3,5 jam, tibalah kami di desa Cibeo yang terletak di tepi sungai. Keluarga Asmin menyambut kami dengan ramah. Beberapa anak kecil berkumpul di tangga dengan wajah-wajah ingin tahu. Segera kukeluarkan beberapa potong coklat, dan mereka menerimanya dengan riang. Ah, rupanya anak-anak itu sudah terbiasa dengan berbagai jajanan. Ternyata para penjual bahkan telah diijinkan berjualan di desa-desa wilayah Dalam.

Baduy

Baduy

Meski masyarakatnya tetap berusaha memegang teguh adat yang antara lain tidak sekolah formal, tidak ke dokter, dan tidak merokok, namun interaksi yang terus menerus antara kelompok Dalam dan Luar membuat pertahanan ini semakin lama semakin lemah. Generasi mudanya pun berusaha belajar berhitung dan baca-tulis, meski tak formal. Ilmu dasar itu perlu untuk bertransaksi menyambung hidup.

Maka, kami tak lagi terkejut ketika menyaksikan munculnya makhluk-makhluk ‘sakti’ itu di wilayah Luar. Ya! Ponsel! Mereka sudah menggunakan ponsel. Betapa tangguhnya modernisasi. Baduy pun, kini sudah jauh berubah.

* Nina Adriani. Sumber foto: koleksi pribadi.

Category: KelanaTags:
No Response

Leave a reply "Baduy Pun Kini Sudah Jauh Berubah"