Api Biru Ijen, Satu dari Hanya Dua di Dunia!

Gonjreng.com – Setelah beberapa tahun lalu majalah terkenal National Geographic melaporkan adanya electric blue flame atau pendar-pendar Api Biru yang indah di kawah Gunung Ijen, tak hanya jumlah pendaki yang kemudian meningkat, namun juga wisata Gunung Ijen memasuki babak baru dengan munculnya pendakian tengah malam. Mengapa? Ternyata Api Biru yang merupakan fenomena langka – hanya ada di dua tempat di dunia, yakni Kawah Ijen dan Islandia – ini, cuma bisa dinikmati pada dini hari sekitar pukul 02.00 hingga 04.00 saja.

Sebenarnya apa penyebab terjadinya Api Biru? Menurut beberapa peneliti, pendar-pendar cahaya biru bukan disebabkan oleh lava gunung berapi, melainkan oleh pembakaran gas sulfur atau belerang pada suhu sangat tinggi yang terkontak dengan udara. Fenomena ini hanya dapat terlihat di malam hari, karena setelah matahari terbit, sumber api yang berupa sulfur ini berubah warna menjadi kuning atau oranye.

Dengan mempertimbangkan jalur pendakian yang relatif mudah, terutama bagi para pendaki pemula yang tak lagi berusia muda, maka malam itu aku pun memberanikan diri untuk mendaki Gunung Ijen bersama mantan teman-teman kuliah. Kami memberanikan melangkah di kegelapan malam, namun tidak ngoyo. Target kami sederhana saja. Perjalanan ini hanya untuk bersilaturahmi, sekaligus mengapresiasi keindahan alam.

Sejak terakhir meletus di tahun 1999, Gunung Ijen masih terus aktif hingga kini. Gunung yang terletak di perbatasan Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Bondowoso di Jawa Timur ini memiliki danau kawah cantik di puncaknya, di ketinggian 2.443 meter di atas permukaan laut. Danau Kawah Ijen yang luasnya 5.466 hektar dengan kedalaman 200 meter ini, berwarna biru tosca indah, dan merupakan danau asam yang terluas di dunia. Ph danau kawah ini sekitar 0,5 atau hampir nol, sehingga jika bagian tubuh manusia tercelup ke dalam asam sangat kuat ini, akan segera melebur.

ijen2Dengan harapan bisa menikmati semua anugerah alam itulah, kami terus berjalan menanjak di kegelapan malam. Karena berkali-kali harus beristirahat mengambil napas, jarak tiga kilometer yang relatif ‘dekat’ itu menjadi seperti berjalan ke ujung dunia. Baru setelah tiga jam ngos-ngosan, kami bisa berhenti. Dan, keindahan alam yang membentang di hadapan kami sungguh membuat kami tertegun dan terpesona.

Meski tak berhasil menyaksikan keindahan Api Biru karena matahari sudah terlanjur terbit, namun bibir Kawah Ijen yang cantik itu seperti tersenyum menyapa kami dengan selimut asap belerangnya yang kekuningan. Di belakangnya menyembul hutan gunung yang tertutup kabut tipis dan terkesan misterius. Perpaduan antara pepohonan yang hijau dan yang meranggas terbakar di musim kemarau sungguh istimewa – mengingatkan kami akan hidup, mati, dan Sang Pencipta. Perjalanan ini sungguh memperkaya batin kami.

* Nina Adriani. Sumber foto: koleksi pribadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *