Ambuyat, Makan Bubur Pakai Sumpit!

Gonjreng.com – Ada makanan-makanan yang sebenarnya tidak pantas diangkat sebagai kuliner pilihan karena tak memenuhi standard kelezatan kulinari, namun karena merupakan makanan khas suatu wilayah, maka pantas dicoba. Salah satunya adalah ambuyat, makanan nasional Brunei. Memberi penilaian kurang lezat pada ambuyat sebenarnya masih berlebihan, karena sesungguhnya ambuyat itu hambar, alias tanpa rasa. Bagaimana bisa makanan hambar dinobatkan sebagai makanan nasional Brunei?

Maka saat aku berkesempatan mengunjungi adikku di Brunei, rasa penasaranku yang besar membuatku segera memintanya untuk membelikanku ambuyat. Dengan wajah geli, ia tertawa. Ambuyat, menurutnya, tidak bisa dibeli untuk dibawa pulang, tapi harus segera dimakan panas-panas di restoran. Aku semakin penasaran.

Untuk membebaskanku dari rasa ingin tahu, akhirnya ia membawaku ke restoran Liyana yang konon memiliki ambuyat paling enak di Brunei. Aku segera memesan ambuyat dengan dua macam saus, ditambah menu pendamping kangkung belacan, tumis urat daging, plus udang pedas. Dan begitu pesanan tiba, tahulah aku mengapa ambuyat harus segera dimakan panas-panas. Ternyata yang terhidang di hadapanku adalah semangkuk ‘lem sagu’ cair yang lengket! Ya. Bubur sagu ini jika dimakan pas sudah dingin, pasti rasanya persis seperti menelan lem kanji!

Ambuyat yang terbuat dari bagian dalam batang sagu ini, penampilannya memang persis seperti bubur tapioka. Ketika kemudian adikku menyodorkan dua batang bambu kecil padaku, aku tambah terbengong-bengong. Ternyata bahkan makan bubur di situ pun aku harus menggunakan sumpit! Sambil tersenyum adikku menawarkan sendok, tapi segera kutolak. Aku tak ingin melewatkan pengalaman pertamaku ini – makan bubur dengan sumpit, atau chandas, seperti penduduk lokal Brunei.

Bagaimana makan bubur dengan sumpit? Ternyata chandas diputarkan di adonan sehingga membentuk gulungan, lalu dicocolkan pada cacah, atau saus pendamping. Tergantung jenis cacah, saus inilah yang memberi rasa pada ‘lem sagu’ tersebut. Ternyata aku membutuhkan waktu yang cukup lama untuk bisa membentuk gulungan yang pantas dilahap. Beberapa kali adonan yang licin itu meluncur jatuh lagi ke dalam mangkok. Sesekali aku melirik ke meja sebelah untuk meniru cara menggulung adonan menjadi bulat.

Setelah berhasil, gulungan itu kucocolkan ke saus sambal belacan. Begitu kutelan terasa adonan licin yang pedas meluncur ke tenggorokanku. Kubuat lagi gulungan kedua, lalu kucocolkan ke saus lain yang mirip sambal pecel. Begitu gulungan mengalir di lidah, aku terkejut karena rasanya masam. Oh, ini saus tempoyak! Tempoyak adalah durian matang yang difermentasi. Biasanya aku menolak makan tempoyak, namun kali ini ternyata lidahku mulai bisa menikmati rasa asam pedasnya. Tak heran jika makanan ringan ini biasa disantap penduduk Brunei sebagai teman ngobrol.

* Nina Adriani. Sumber foto: wikimedia.org.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *